My Family

Sewaktu kecil anak-anak lelaki menjadi perhiasan mata kerana lucunya,kerana dia tupuan harapan,maka setelah dia besar, dia menjadi kebanggaan kerana kejayaan hidupnya. ( Hamka).

Universitas Andalas

Dalam masa kejayaan, teman-teman mengenal kita. Dalam kesengsaraan, kita mengenal teman-teman kita. Ingatlah kapan terakhir kali anda berada dalam kesulitan. Siapa yang berada di samping anda??. Siapa yang mengasihi anda saat anda merasa tidak dicintai??

Jawara Group - Riau

Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya

Pantai Sikabau Pasaman Barat

Waktu terbaik untuk berbahagia adalah sekarang.Tempat terbaik untuk berbahagia adalah di sini.Dan cara terbaik untuk berbahagia adalah membahagiakan orang lain.

Mona Plaza Hotel

Yang Anda pikirkan, menentukan yang Anda lakukan.Dan yang Anda lakukan, menentukan yang Anda hasilkan.Maka ukuran dan kualitas dari pikiran Anda,menentukan ukuran dan kualitas hasil dari pekerjaan Anda.

My Room, Mahad Al-Jamiah UIN SUSKA

Tersenyumlah pada sesamamu, ketahuilah bahwa mungkin senyumanmu memiliki arti yg besar bagi mereka

BEM UIN SUSKA

Anda belum disebut menemukan tujuan hidup Anda yang sebenarnya, jika orang lain tidak bisa merasakannya dalam ketetapan pandangan mata Anda, dalam kejelasan bicara, dalam ketegasan langkah, dan dalam kekuatan dari alasan-alasan Anda.

I Love Theater

Percayalah akan kemampuan dirimu sendiri, itu akan menghindarkanmu dari orang-orang yg ingin mematahkan semangatmu Aku hanya manusia biasa, memiliki hidup yang biasa. Namun kehadiran dirimu mengubah segalanya, kau membuatku merasa sempurna..

Mesjid Al-Azhar UNP

Kebanyakan orang sukses adalah yang mampu menggunakan imajinasi pikirannya, menerawang kedepan, membuat gambaran-gambaran dengan semua rinciannya, menambal sulam semua kekurangan, mencoba melaksanakannya, dan terus mewujudkannya.

Alam Mayang Siak

Perbedaan antara orang sukses dengan orang-orang biasa adalah bukan karena kurangnya tenaga, atau bukan juga karena kurangnya pengetahuan, tetapi lebih pada kurangnya kemauan.

HMJ MPS IAIN IB

Hanya orang-orang yang hebat yang mampu membuat anda merasa bisa menjadi hebat. Dan tahukah anda, hanya andalah yang mampu membuat anda merasa hebat.

Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Juli 2012

Pendayung Sampan dan Profesor

Suatu hari seorang profesor menyewa sebuah sampan untuk membuat kajian di tengah lautan.Pendayung itu merupakan lelaki tua yang sangat pendiam. Profesor sengaja mengupah lelaki tua itu kerana dia tidak mahu orang yang menemaninya banyak menyoal tentang apa yang dia lakukan.
Dengan tekun Profesor itu melakukan tugasnya tanpa menghiraukan pendayung sampan. Dia mengambil air laut dan diisi kedalam tabung uji, digoncang-goncang, kemudian mencatat sesuatu di dalam buku catatan dibawanya. Berjam-jam lamanya Profesor itu melakukan kajian dengan tekun sekali. Pendayung sampan mendongak ke langit, memandang pada awan yang mula berarak kelabu. Dalam hati dia berkata “Hmm..tak lama hujan lebat akan turun..”

“OK semua sudah siap mari kita balik.” Lantas pendayung itu memusingkan sampannya dan mula mendayung ke arah pantai. Dalam perjalanan itu baru Profesor itu membuka mulut menegur pendayung sampan.
“Dah lama kamu mendayung sampan?” Tanya Profesor kepada pendayung sampan. “Hmm..hampir seumur hidupku,” jawab si pendayung ringkas.
“Seumur hidup kamu? Jadi kamu tidak tahu apa-apa selain mendayung sampan?” tanya Profesor itu lagi.
“Ya..”jawab pendayung sampan dengan ringkas.
Profesor belum berpuas hati dengan jawapan pendayung tua itu. “Kamu tahu Geografi?” Si pendayung menggeleng..
“Kalau begitu kamu hilang 25% dari usia hidup kamu.”
“Kamu tahu Biologi?”tanya Profesor itu lagi. Pendayung sampan itu menggeleng lagi.
“Kasihan kamu telah kehilangan 50% dari usia kamu.”
“Kamu tahu Fizik?” Profesor itu masih bertanya. Seperti tadi pendayung sampan itu hanya menggeleng.
“Sungguh kasihan kalau begitu kamu telah kehilangan 75% usia kamu.Malang sungguh nasib kamu semuanya tidak tahu. Seluruh hidup kamu hanya dihabiskan dengan sampan,tak ada gunanya lagi,” Profesor itu mengejek dan berkata dengan angkuh setelah merasakan dirinya yang terhebat. Pendayung sampan hanya mendiamkan diri.

Selang beberapa minit kemudian hujan turun dengan lebat, tiba-tiba ombak besar datang melanda. Sampan yang mereka naiki terbalik. Profesor dan pendayung sampan terpelanting. Sempat pula pendayung itu bertanya, “Kamu tahu berenang?” Profesor hanya menggeleng.
“Sayang sekali kamu telah kehilangan 100% nyawa kamu.” Kata pendayung itu sambil berenang ke pantai meninggalkan Profesor yang angkuh tadi.
Sumber : http://umybilqis.wordpress.com

Minggu, 08 Juli 2012

Yang kikir, yang pemurah

Di antara manusia ada yang kikir dan ada pula yang dermawan… Orang yang kikir mengukur laba rugi berdasarkan motif duniawi belaka…, sedangkan orang dermawan menilai laba rugi berdasarkan motif ukhrawi yang jauh lebih baik dan kekal…
Diriwayatkan, bahwa: Seorang lelaki pemilik pohon kurma mempunyai pohon yang mayangnya menjulur ke rumah tetangganya seorang fakir yang banyak anaknya. Bila pemilik kurma itu memetik buah kurma, maka dia  memetiknya dari rumah tetangganya, dan jika ada kurma yang jatuh dan dipungut oleh anak-anak yang fakir itu, ia segera turun dan merampasnya dari tangan anak-anak itu, bahkan yang sudah masuk ke mulut anak-anak itupun dipaksa dikeluarkan…
Orang fakir itu mengadukan hal ini kepada Rasulullah SAW dan beliau berjanji akan menyelesaikannya. Kemudian Rasulullah SAW bertemu dengan pemilik kurma itu dan bersabda: “Berikanlah kepadaku pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah si Fulan, dan bagianmu sebagai gantinya pohon kurma di surga”. Pemilik kurma itu menanggapi: “Hanya sekian tawaran tuan?” Aku mempunyai banyak pohon kurma dan pohon kurma yang diminta itu paling baik buahnya”… Pemilik kurma itu pergi.
Pembicaraan dengan Nabi SAW tersebut terdengar oleh seorang Dermawan yang langsung menghadap kepada Rasulullah SW dan bertanya: “Apakah tawaran tuan itu berlaku juga bagiku, jika pohon kurma itu telah menjadi milikku?” Rasulullah SAW menjawab: “Ya!” Maka pergilah orang itu menemui sang pemilik kurma. Pemilik pohon kurma itu berkata: “Apakah anda tahu bahwa Muhammad SAW menjanjikan pohon kurma di surga sebagai ganti pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah tetanggaku? Dan bahwa aku catat tawarannya, akan tetapi buahnya sangat mengagumkan, padahal aku banyak mempunyai pohon kurma dan tidak ada satupun yang buahnya selebat itu?” Orang Dermawan tadi menanggapi: “Apakah anda mau menjualnya?” Ia menjawab: “Tidak, kecuali apabila ada orang yang sanggup memenuhi keinginanku, tapi… pasti tidak akan ada yang sanggup”. Dermawan itu mengatakan: “Berapa yang anda inginkan?” Ia berkata: “Aku inginkan empat puluh pohon kurma”. Ia terdiam kemudian berkata lagi: “Anda minta yang bukan-bukan, baik aku berikan empat puluh kurma kepadamu, dan aku minta saksi jika anda benar mau menukarnya”. Ia memanggil sahabat-sahabatnya untuk menyaksikan pertukaran itu.
Dermawan tadi menghadap Rasulullah SAW dan berujar: “Wahai Rasulullah! Pohon kurma itu telah menjadi milikmu dan aku akan serahkan kepada tuan”. Maka Rasulullah SAW berangkat kepada pemilik rumah yang  yang fakir itu dan bersabda: “Ambillah pohon kurma itu untukmu dan kelurgamu”. Sehubungan dengan kasus inilah turun surat Al Lail (S: 92) dari ayat 1 hingga terakhir. (Lihat, Jalaluddin As Suyuthi/ Ad Darr al Mantsur/ Juz X/ hal 278)
Terjemahan maksud surat Al Lail:
1.  Demi malam apabila menutupi (cahaya siang),
2.  Dan siang apabila terang benderang,
3.  Dan penciptaan laki-laki dan perempuan,
4.  Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.
5.  Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa,
6.  Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga),
7.  Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.
8.  Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup,
9.  Serta mendustakan pahala terbaik,
10.  Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.
11.  Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia Telah binasa.
12.  Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk,
13.  Dan Sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia.
14.  Maka, Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.
15.  Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka,
16.  Yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).
17.  Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu,
18.  Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya,
19.  Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya,
20.  Tetapi (Dia memberikan itu semata-mata) Karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi.
21.  Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.

Abdul Muis Mahmud
UG-Jumat, 24 Desember 2010 pukul 7:56:31

Bahaya Berita Fasik

Oleh : Abdul Muis Mahmud

Suatu ketika Nabi mengutus Walid bin ‘Uqbah bin Abi Mu’ith untuk memungut zakat Bani Mustaliq. Ia menerima tugas itu tanpa ragu-ragu. Tetapi syethan telah menggoda hatinya dan menggoncangkan imannya. Ia merasa was-was untuk pergi ke Bani Mustaliq itu, karena khawatir kalau dirinya akan dibunuh. Di tengah jalan, sambil memperlambat jalan untanya, ia bimbang dan ragu, berat rasanya untuk memenuhi tugas yang dibebankan Nabi, sebab jiwanya pengecut. Maka diputuskannya lagi untuk kembali ke Medinah.

Setelah sampai di sana, ia bercerita kepada Nabi:
“Bani Musthaliq kini telah kembali kafir. Mereka tidak mau menunaikan zakatnya, dan bahkan mereka sudah sepakat untuk menyerang kaum muslimin.” (H.R. Ahmad dalam Musnad).

Islam dan Prinsip Keadilan

Oleh : Abdul Muis Mahmud

Pada suatu hari Ali Abi Thalib r.a kehilangan baju besi kesayangannya dan berusaha mencarinya. Tak lama kemudian beliau dapati baju besi itu di tangan seorang laki-laki ahli zimmah (non muslim yang hidup di bawah perlindungan Islam), yang akan menjualnya di pasar Kaufah.

Setelah baju besi itu ditelitinya, maka ia berkata: “Baju besi ini adalah milikku yang terjatuh dari ontaku di malam ini dan di tempat itu…”

Ali r.a menegaskan: “Ia milikku yang tidak pernah aku perjual belikan kepada seseorangpun, dan tidak pernah aku hadiahkan kepada seseorangpun hingga kini berada di tanganmu..!“

Jagalah diri dari neraka walaupun dengan sebutir kurma

   Marilah kita merenung sejenak, terutama sa’at-sa’at larut malam sedang memeluk insan dalam dengkuran tidur yang nyenyak. Di sa’at manusia memperlihatkan wajah polos, siapapun dianya… walaupun di kala bangunnya, wajah itu terkadang ditutupi topeng-topeng yang berwarna-warni…
Mari kita meletakkan beban yang menghentak di puncak kepala, dan menyenak di jiwa…, kala bunga-bunga dunia memukau kita agar berpaling kepadanya dengan mengorbankan ketulusan, kejujuran dan cinta kasih… Lalu dipaksanya kita menutupi borok di muka dengan topeng kepalsuan…
Renungan itu membawa kita untuk menginsafi jatidiri, bahwa; kita hadir di dunia ini sementara waktu dan kelak kita akan menghadap kepada Handai Tertinggi; Rabbul ‘Izzati, pada hari liqa’ (pertemuan itu) terjadi.
Seperti wajah-wajah polos dalam dengkuran tidur tengah malam itu, tak ada perbedaan antara wajah pencinta dengan pembenci, antara si adil dengan si zalim, si kaya dengan si miskin… maka kita hadapkan jiwa raga kita kepada Allah SWT dengan kepolosan hati, meminta kepadaNya ampunan dan kasih sayangNya, agar memelihara kita dari siksa neraka…
Nabi SAW pernah mengingatkan kita, agar memelihara diri dari neraka, meskipun dengan sebutir kurma… “jika kamu tidak mendapati separoh kurma”, kata beliau, “maka dengan kata-kata yang baik...”
Pesan Al Musthafa SAW tersebut seperti tercantum di bahwa ini:
جامع الأصول في أحاديث الرسول - (ج 11 / ص 313)
8877 - (خ) عدي بن حاتم - رضي الله عنه - قال : «بينما أنا عند النبي -صلى الله عليه وسلم- ، إِذ أتاهُ رجل. فشكا إِليه الفاقة ، ثم أتاهُ آخر فشكا إِليه قَطْع السبيل-[314]- فقال يا عدي ، هل رأيت الحِيرَةَ ؟ قلت: لم أرها ، وقد أنبئت عنها ،قال: إن طالت بك حياة لَتَرَيَنَّ الظَّعينة ترحل من الحِيرة حتى تطوف بالكعبة. لا تخاف أحدا إِلا الله تعالى. قلت: فيما بيني وبين نفسي : فأين دُعَّارُ طَيِّء الذين سعَّروا في البلاد ؟ - ولئن طالت بك حياة لتفتحن كنوز كسرى ، قلت: كِسرى بن هُرْمُز ؟ قال: كسرى بن هرمز، ولئن طالت بك حياة لَتَرَيَنَّ الرجل يُخرج مِلء كَفِّه من ذهب أو فضة يطلب من يَقْبَلُهُ، فلا يجد أحدا يقبله منه ، ولَيَلْقِيَنَّ الله أحدُكم يوم يلقاه ، وليس بينه وبينه حجاب ، ولا تَرْجمان يُترجم له. فليقولن : ألم أبعث إِليك رسولا فيُبلغك ؟ فيقول : بلى يا رب ، فيقول : ألم أعطك مالا وأُفْضِلْ عليك ؟ فيقول : بلى ، فينظر عن يمينه ، فلا يرى إِلا جهنم ، وينظر عن يساره فلا يرى إِلا جهنمي. قال عدي : فسمعتُ النبي -صلى الله عليه وسلم- يقول : اتقوا النار ، ولو بشق تَمرة، فمن لم يجد شِقَّ تمرة فبكلمة طيبة.
قال عدي : فرأيت الظعينة ترتحل من الحيرة حتى تطوف بالكعبة لا تخاف إِلا الله. وكنتُ فيمن افتتح كنوز كسرى بن هرمز. ولئن طالَت بكم حياة لَتَرَوُنَّ ما قال أبو القاسم -صلى الله عليه وسلم- يُخرج». أخرجه البخاري. (2/135و4/240)
Dari 'Adi bin Hatim ra., ia berkata : "Ketika saya ada disisi Nabi SAW. tiba-tiba datanglah seorang laki-laki kepada beliau, dia mengadukan kepada beliau tentang kemiskinan, kemudian datanglah kepada beliau orang lain yang mengadukan kepada beliau tentang penyamun. Lalu Rasulullah SAW, bersabda : "Wahai Adi, apakah kamu melihat Hirah ?" Saya menjawab : "Belum melihatnya, saya telah diberi tahu tentang Hirah itu". Rasulullah SAW. bersabda : "Jika kamu hidup lama (panjang umur) niscaya kamu akan melihat sekedup berangkat dari Hirah sehingga thawaf di Ka'bah, sekedup itu tidak takut pada seseorang kecuali kepada Allah". Saya berkata tentang sesuatu antara saya dan diri saya (berguman) : "Dimanakah penyamun yang membuat keonaran di suatu negara ?" (Nabi SAW. bersabda) : "Jika kamu hidup lama (panjang umur), kamu akan menaklukkan perbendaharaan Kisra". Saya bertanya : "Kisra bin Hurmuz ?" Nabi SAW. bersabda : "Kisra' bin Hurmuz, dan jika kamu hidup lama (panjang umur), niscaya kamu akan melihat seorang laki-laki mengeluarkan emas atau perak sepenuh telapak tangannya, mencari or­ang yang mau menerimanya namun ia tidak mendapat seorangpun yang mau menerimanya. Dan seseorang diantaramu akan bertemu Allah pada hari pertemuan itu, yang antara dia dengan Tuhan tidak ada penterjemah yang menterjemahkan. Maka sungguh Dia (Tuhan) berfirman kepadanya: "Tidakkah aku mengutus kepadamu seorang Rasul yang menyampaikan kepadamu (kerisalahan) ?" Ia menjawab : "Ya". Lalu ia melihat sebelah kanannya, ia tidak melihat kecuali Jahannam dan melihat kesebelah kirinya, ia tidak melihat kecuali Jahannam. 'Adi berkata : "Saya mendengar Nabi SAW. bersabda : "Jagalah dari neraka walaupun dengan separoh kurma, jika kamu tidak mendapati separoh kurma maka dengan kata-kata yang baik. 'Adi ra. berkata : Lalu saya melihat sekedup yang berangkat dari Hirah sehingga thawaf di Ka'bah sekedup itu tidak takut kecuali kepada Allah. Dan saya termasuk orang-orang yang menaklukkan perbendaharaan Kisra bin Hurmuz dan sungguh jika kalian hidup lama (panjang umur), niscaya kalian akan menyaksikan apa yang telah disabdakan oleh Nabi, ayah Qasim SAW. yaitu : "Orang mengeluarkan sepenuh telapak tangannya". ((Sheheh Al Bukhari/Juz II/ hal 135 dan juz IV/ hal 240 (Jami’ al Ushul fii ahaadits al Rasul/ Juz  XI/ hal 313))
Oleh : Abdul Muis Mahmud ( Ayahanda tercinta )

Ketika situasi hidup telah berubah

“Perjalanan nasib manusia seperti roda pedati…”, demikian pepatah orang tua-tua, “sekali ke atas, sekali ke bawah…Bila sedang di atas janganlah anda lupa diri dan bila sedang di bawah janganlah anda berputus asa…!”
Tetapi ketika situasi hidup telah berubah – dari kesusahan menuju kelapangan, dari sengsara menuju bahagia – banyak sekali manusia yang lupa diri, dan kufur nikmat.
Nabi SAW pernah memaparkan tentang tiga orang yang menjalani ujian hidup; dari kesusahan menuju kesenangan, bahwa; dua diantara mereka bertiga ternyata kandas dalam ujian…

Jika Aku Harus...

Jika aku harus berenang di laut untuk mendapatkan apa yang aku inginkan,
aku akan belajar bagaimana berenang, dan aku akan mengarungi lautan itu.
Jika aku harus mendaki gunung tertinggi untuk mendapatkan apa yang aku inginkan, aku akan belajar cara memanjat, dan aku akan memanjat gunung itu.
Jika aku harus menyelam samudra terdalam untuk mendapatkan apa yang aku inginkan, maka aku akan belajar bagaimana cara menyelam, dan aku akan menyelami samudra itu.
Jika aku kecewa karena hal-hal yang tidak tampak seperti yang aku inginkan,
maka aku akan belajar bagaimana menerimanya, dan aku akan mencoba untuk menerimanya.
Setidaknya sekarang aku telah mengalami bagaimana berenang, mendaki dan menyelam dan juga bagaimana untuk menerima segala sesuatu yang berasal dari usahaku..
Kemudian, aku akan mencoba kembali untuk melakukan lebih baik. Demi apa yang aku inginkan…
Aku akan datang.. dan mencapai semua itu.. Semoga saja keinginan ini adalah baik… dan untuk kebaikan

By Johni Pangalila – Resensi.net

Pelajaran Kehidupan

I feared being alone until I learned to like myself.
I feared failure until I realized that I only fail when I don’t try.
I feared success until I realized that I had to try in order to be happy with
myself.
I feared people’s opinions until I learned that people would have opinions about me anyway.
I feared rejection until I learned to have faith in myself.
I feared pain until I learned that it’s necessary for growth.
I feared the truth until I saw the ugliness in lies.
I feared life until I experienced its beauty.
I feared death until I realized that it’s not an end, but a beginning.
I feared my destiny, until I realized that I had the power to change my life.
I feared hate until I saw that it was nothing more than ignorance.
I feared love until it touched my heart, making the darkness fade into endless
sunny days.

Sumur Kering

Oleh: Mohammad Sobary

Pernah saya baca kisah seorang ahli bahasa terperosok ke dalam sebuah sumur kering. Ia tak bisa naik. Ketika tampak olehnya orang bertopi melongok ke bawah, ia berteriak minta tolong.

“Tolonglah, keluarkan aku dari sini.”

“Oke,” jawab orang bertopi itu. Ia seorang sufi yang  bermaksud mencari air minum. “Tunggulah sebentar, aku cari tali dan tangga,” kata sang sufi lagi

“Huss, logika bahasamu salah,” teriak si ahli bahasa.  “Seharusnya kau bilang tangga, baru kemudian tali,” katanya lagi.

Sufi kita, yang biasa berpikir tentang hakikat, tertegun  sejenak. Ia menyadari betapa tak mudah berurusan dengan orang yang bisa cerewet mengenai persoalan “kulit” dan abai  terhadap perkara “isi”. Tapi kemudian ia menyahut lagi.

“Baiklah Bung, kalau dalam keadaan darurat begini kau masih  lebih mengutamakan kaidah bahasa ketimbang keselamatan  jiwamu, tunggulah lima tahun di situ sampai saya kembali sebagai ahli bahasa.”

Sang sufi kemudian melangkah anggun menjauhi tempat itu dan  tinggallah ahli bahasa kita, termenung-menung menyesali  orientasinya yang sering kelewat teknis dalam menghadapi  persoalan hidup yang kompleks dan warna-warni itu.

Boleh jadi, ahli bahasa dan sufi dalam kisah ini tak pernah  ada. Kisah ini, dengan kata lain, bisa saja cuma sebuah rekaan belaka. Tapi bahwa manusia dengan sikap dan pemikiran  seperti mereka itu ada di sekitar kita, sebaiknya tak usah  diragukan.

Saya pikir-pikir, kisah itu merupakan sebuah karikatur yang  pas buat dua orang tokoh di kampung saya: Haji Mangil dan Kang Kamidin. Haji Mangil itu resminya imam masjid. Dalam  urusan doa-doa, selamatan dan aneka ritus agamis ia berada di “depan”. Orang banyak telah mengkiai-kan dia. Tetapi  kekuasaan real Haji Mangil jauh lebih besar lagi karena ia  ternyata juga dominan secara politis.

Kang Kamidin sebaliknya. Ia tak “tampak”. Kehadirannya  dalam, dan absennya dari, pertemuan, misalnya, tak menambah  dan tak mengurangi arti apa pun.

Pendeknya, ia tidak “dihitung”. Ia bukan pengikut yang baik.  Diajak tahlilan tidak mau. Diajak Yasinan tiap malam Jum’at  sering mencolot diam-diam, karena tidak hapal surat Yasin.  Buat apa anggota macam dia?

Saya sendiri netral. Posisi “non-blok” ini membuat saya bisa  luwes berdialog dengan pihak mana pun.

Pernah suatu hari, setelah salat lohor di masjid, saya  bertanya pada “kiai” kita mengapa ia begitu menekankan  perlunya menghapal doa dan ayat-ayat.

“Kamu ini bagaimana, semuanya itu kunci pokok. Kita dilarang  melakukan suatu amal bila kita tak paham akan ilmunya.  "Ngerti?”

Karena saya kelihatan belum mengerti, Haji Mangil pun  memberi contoh. “Bila tak paham ilmu, kita beramal, itu  ibarat tukang jahit memotong-motong kain seorang pelanggan  sebelum ditanya buat apa kain itu,” katanya.

“Dia potong buat jas, padahal pelanggan mau bikin celana.  Kan kacau jadinya?” kata Pak Haji lagi.

Saya tahu, Pak Haji menyindir Kang Kamidin yang rajin puasa  Senin-Kamis, rajin salat malam, tapi buta ayat dan doa-doa.

“Maksudnya, amal itu tak sampai pada Tuhan?”

“Jelas tidak. Amal begitu sama dengan surat tanpa alamat.  Surat sudah ditulis, sudah dimasukkan ke dalam amplop, sudah  ada prangko, tapi tak ada alamat. Ke mana tukang pos mau  menyampaikannya, coba?”

Pak Haji seorang formalis. Ia bangga bahwa Islam tegas  mengajarkan sikap disiplin. Berulang-ulang dia anjurkan jamaah berdisiplin memegang waktu, agar dalam salat jamaah  ada di shaf paling depan.

“Shaf paling depan itu pahalanya paling besar: dapat unta,”  katanya. “Belakangnya cuma lembu. Belakangnya lagi kambing.  Nah, terserah kita. Mau pilih kelas unta apa puas dengan  kelas kambing,” katanya lagi.

“Kalau begitu berarti Pak Haji selalu dapat unta, dan orang  lain cuma kambing, mungkin malah cuma burung emprit,” kata saya.

“Salah mereka sendiri, bukan, memilih kelas emprit?”

Para jamaah setuju seratus persen. Tapi Kang Kamidin, yang  tidak termasuk main stream itu, tentu tak akur dengan “kalkulasi” tersebut.

“Ibadah ya ibadah,” kata Kang Kamidin.

“Maksudnya?”

“Ibadah itu bukti ketulusan hati. Jadi tak usah dikaitkan  dengan pahala.”

“Tapi pahala kan memang dijanjikan?”

“Ya, bagi ‘anak kecil’ yang menyapu demi hadiah permen; bagi  jiwa yang sujud demi pahala.”

“Apakah berarti Haji Mangil salah?”

“Kita tak punya hak menilai ibadah orang lain. Itu urusan  Tuhan.”

Saya pun bertanya, bagaimana sikapnya terhadap pandangan “kiai” kita yang menganggap ibadah tanpa ilmu ibarat surat  tanpa alamat.

“Tuhan tak sebodoh tukang pos, Mas,” katanya.

Lama saya berpikir. Di balik kesederhanaannya itu terselip  kecanggihan. Ia tidak mau terperosok ke dalam “sumur kering”  penalaran yang serba formal dan teknis.

Oma Irama pernah bilang bahwa lagu-lagunya keluar dari hati,  dan pasti akan sampai ke hati. Kang Kamidin tampaknya  bersikap sama: ibadah yang tulus dari hati, akan ketangkap  juga oleh gelombang cahaya Tuhan, yang mahabesar kasihnya,  yang tak terhingga ampunannya, dan yang mahatahu pula,  betapa kita ini cuma boneka-boneka tolol, di mata-Nya.


Sumber: http://cafe.degromiest.nl/wp/archives/33

Menjadi Kaya dalam Keterbatasan

Teringat Masa Lalu... Pulang Kuliah, saya tak langsung pulang.. Saya naik Angkot di depan Gerbang Kampus IAIN IB, menuju taman Imam Bonjol Pasar Raya Padang... ( dengan tangan kanan menenteng "Mi Tek-Tek buatan sendiri") untuk di jual Kepada Warga kota Padang yang tengah bersantai menghabiskan sore di Taman tersebut.. Lalu pulang Ke Kost ketika Waktu Isya tiba, Mesjid Raya Muhammadiah Kota Padang menjadi tempat melepas rasa penat dari Magrib hingga waktu Isya tiba, saksi bisu atas perjuangan saya, melawan Rasa Malu, Minder dan Lelah tak tertahan..
Pukul 03.00 dini hari saya bangun untuk kembali berjuang, memasak aneka sambal untuk esok pagi di pasarkan ke kampus PSIK Unand di Kampung Cina.. Begitulah kehidupan terus berlalu, tak jarang saya Sakit, karna terlalu sibuk dengan Tanggung Jawab di Organisasi, ya kebetulan di tahun Awal perkuliahanku Aku telah di bebankan Amanah di beberapa Organisasi sebagai Ketua, tak tanggung-tanggung semester 2 saya di amanahkan sebagai Ketua HMJ di fak.syariah
Itulah sebuah Proses.. Ini semua membuatku Kuat, bagiku Pantang Membebani Kedua Orang tua, tak jarang akupun sering Berdusta Kepada Orang tua, ketika mereka menanyakan " Nif.. Uang Belanjamu masih adakah..???"... walaupun tak ada, aku selalu menjawab "Alhamdulillah bu, saya masih bisa makan.." ya masoh bisa makan di kost kawan... Aku tak ingin membebani mereka apalagi memaksa untuk mengirimkan Uang Belanja, dalam fikiranku "Jika Orgtuaku punya rezky lebih, pastilah mereka akan mengirimkan.. jika ada,, Alhamdulillah, Jika tak ada, toh kita punya banyak kawan untuk meminjam atau sekedar numpang makan, dan gantian juga dong, ketika kita lapang kita pun ajak mereka makan di kost"... dan Prinsip itu berlalu sampai saat ini. Orang Tuaku bukanlah orang yang Bodoh, apalagi Ayah juga pernah menjadi Mahasiswa, tentunya dia tahu Kebutuhan kita seperti Apa...! Hidup ini indah... Jika kita selalu bersyukur.. Menatap kebawah membuat kita sadar bahwa ternyata kita adalah orang yang KAYA...!  Dikutip dari Diary hatiku, edisi 2010 

Jumat, 06 Juli 2012

10 Keajaiban sedekah


Dalam beberapa hadits, Rasulullah SAW banyak menjelaskan tentang keajaiban sedekah.

Beberapa keajaiban sedekah tersebut diantaranya adalah:
1. Sedekah bisa melepaskan pelakunya dari bencana.
Rasulullah SAW bersabda,
"Sesungguhnya sedekah dapat menolak 70 pintu bencana."



2. Sedekah merupakan obat penyakit pada tubuh.
Rasulullah SAW bersabda,
"Obatilah penyakitmu dengan bersedekah."

3. Sedekah sebagai benteng buat diri kita.
Rasulullah SAW bersabda,
"Bentengilah harta bendamu dengan sedekah."

4. Sedekah sebagai pemadam kemurkaan Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda,
"Sedekah dapat menutup kemurkaan Allah."

5. Sedekah bisa menambah keakraban sesama muslim.
Rasulullah SAW bersabda,
"Sedekah adalah hadiah. Maka, berikanlah hadiah kepada teman pergaulanmu dan berkasih sayanglah kalian dengan saling memberi sedekah."

6. Sedekah dapat menambah umur.
"Rasulullah SAW bersabda,
"Sedekah dapat menolak musibah serta dapat menambah keberkahan umur."

7. Sedekah mampu menanamkan rasa belas kasihan dalam hati.
Rasulullah SAW bersabda,
"Barang siapa mendapatkan kesedihan hati, maka berikanlah sedekah."

8. Sedekah sebagai syafaat kelak di akhirat.
Rasulullah SAW bersabda,
"Sesungguhnya yang akan menaungi orang mukmin pada hari kiamat kelak adalah sedekah."



9. Sedekah menuai pahala yang termat besar.
Dalam sebuah atsar disebutkan,
"Barang siapa bersedekah dengan sebiji tamar, kelak di hari kiamat dia akan mendapat pahala sebesar gunung yang berada di atas timbangan amalnya."

10. Sedekah sebagai wasilah menambah rezeki.
Rasululah SAW bersabda,
"Tidak akan berkurang harta yang disedekahkan, bahkan akan bertambah, akan bertambah, dan akan bertambah."

Itulah beberapa hadits mengenai khasiat sedekah.
Maka Pancinglah rezeki dengan bersedekah.
Sumber : http://uswahislam.blogspot.com

Follower

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More